Sintering proces
sintering merupakan proses pemanasan dibawah titik
leleh dalam rangka membentuk fase
kristal baru sesuai
dengan yang diinginkan dan bertujuan membantu mereaksikan bahan-bahan
penyusun baik bahan keramik maupun bahan logam.
Proses sintering akan berpengaruh cukup
besar pada pembentukan fase kristal bahan. Fraksi fase yang
terbentuk umumnya bergantung pada lama dan atau suhu sintering.
Semakin besar suhu sintering dimungkinkan semakin cepat proses pembentukan
kristal tersebut. Besar kecilnya suhu juga berpengaruh pada bentuk
serta ukuran celah dan juga berpengaruh pada struktur pertumbuhan
kristal (setyowati, 2008).
Suhu sintering dapat
ditentukan dari eksperimen termal seperti DTA, DTG, dan DSC.
Berdasarkan hasil eksperimen ini diperoleh suhu lelehan selain suhu
dekomposisi. Setiap komposisi senyawa tertentu memiliki titik leleh berbada.
Sintering bahan keramik biasanya ditentukan sekitar 75% dari titik
leleh total .
Pada proses sintering, terjadi proses pembentukan
fase baru melalui proses pemanasan dimana pada saat terjadi
reaksi komponen pembentuk masih dalam bentuk padat dari campuran serbuk. Hal ini
bertujuan agar butiran-butiran (grain) dalam partikel-partikel yang berdekatan
dapat bereaksi dan berikatan. Proses sintering fase padat terbagi menjadi tiga
padatan, yaitu:
a. Tahap awal
Pada tahap awal ini
terbentuk ikatan atomik. Kontak antar partikel membentuk leher yang tumbuh
menjadi batas butir antar partikel. Pertumbuhan akan menjdi semakin cepat
dengan adanya kenaikan suhu sintering. Pada tahap ini penyusutan juga
terjadi akibat permukaan porositas menjadi halus.
b. Tahap menengah
Pada tahap ini
terjadi desifikasi dan pertumbuhan partikel yaitu butir kecil larut dan
bergabung dengan butir besar. Akomodasi bentuk butir ini menghasilkan pemadatan
yang lebih baik. Pada tahap ini juga berlangsung penghilangan
porositas. Akibat pergeseran batas butir, porositas mulai saling berhubungan
dan membentuk silinder di sisi butir.
c. Tahap akhir
Fenomena desifikasi dan
pertumbuhan butir terus barlangsung dengan laju yang lebih rendah dari
sebelumnya. Demikian juga dengan proses penghilangan porositas, pergeseran
batas butir terus berlanjut. Apabila pergeseran batas butir lebih lambat
daripada porositas maka porositas akan mucul dipermukaan dan saling
berhubungan. Akan tetapi jika pergeseran batas butir lebih cepat daripada
porosositas maka porositas akan mengendap di dalam produk dan akan sulit
dihilangkan
Produk yang dihasilkan
diharapkan memiliki densitas yang tinggi dan homogen,
maka pada proses sintering harus terjadi homogenisasi. Jika terdapat
lapisan oksida pada serbuk logam, proses sintering yang diharapkan
bisa menjadi lebih lambat. Selain lapisan oksida ini menyebabkan produk yang
dihasikan menjadi lebih getas, lapisan oksida tersebut juga menghambat
proses difusi antar partikel serbuk saat sintering dan
meningkatkan temperatur sintering. Lapisan oksida yang
menempel pada serbuk terbentuk akibat kontak antar permukaan serbuk
dengan udara dan akibat perlakuan yang diterima serbuk saat proses
produksi metalurgi serbuk berlangsung. Oksida pada serbuk dapat
diminimalkan dengan mengalirkan gas reduksi sebelum atau sewaktu sintering
berlangsung,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar